Jumat, 02 Januari 2026

Kembali Kepada Allah Sejak Awal (Renungan dari Al-Hikam)

Dalam perjalanan spiritual seorang hamba, sering kali kita terjebak pada anggapan bahwa kedekatan kepada Allah adalah hasil dari perjalanan panjang yang penuh dengan usaha lahiriah semata. Kita merasa harus “menjadi baik” terlebih dahulu, membersihkan diri dari dosa, memperbanyak amal, lalu barulah layak kembali kepada-Nya. Namun hikmah-hikmah dalam Al-Hikam karya Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari mengajarkan sudut pandang yang lebih dalam: kembalilah kepada Allah sejak awal, bukan setelah merasa sempurna.

Makna Kembali Sejak Awal

“Kembali kepada Allah sejak awal” berarti menjadikan Allah sebagai tujuan pertama, bukan tujuan terakhir. Dalam Al-Hikam, Ibnu ‘Athaillah berulang kali mengingatkan bahwa amal, taubat, dan ketaatan bukanlah sebab utama sampainya seorang hamba kepada Allah, melainkan karunia dan hidayah-Nya. Amal adalah buah, bukan akar. Akar dari segala kebaikan adalah keterhubungan hati dengan Allah.

Banyak orang menunda taubat karena merasa belum pantas. Padahal, perasaan “belum pantas” itulah yang sering menjadi hijab. Allah tidak menunggu hamba-Nya suci untuk menerima mereka; justru dengan kembali kepada-Nya lah hati disucikan.

Bahaya Mengandalkan Amal

Dalam salah satu hikmah Al-Hikam, Ibnu ‘Athaillah menyinggung bahaya orang yang bersandar pada amalnya. Ketika seseorang terlalu percaya pada amal, ia lupa bahwa amal itu sendiri adalah anugerah. Nafas yang digunakan untuk beribadah, waktu yang tersedia untuk taat, bahkan keinginan untuk mendekat—semuanya berasal dari Allah.

Kembali kepada Allah sejak awal berarti melepaskan ketergantungan pada amal dan menggantinya dengan ketergantungan kepada Allah. Amal tetap penting, tetapi posisinya sebagai bentuk penghambaan, bukan sebagai “alat tawar-menawar” dengan Tuhan.

Taubat sebagai Pintu, Bukan Syarat

Dalam perspektif Al-Hikam, taubat bukan syarat untuk kembali, melainkan pintu yang dibukakan setelah Allah menghendaki seorang hamba untuk kembali. Jika Allah tidak menghendaki, tidak akan terlintas dalam hati seseorang keinginan untuk bertaubat.

Maka, ketika hati tergerak untuk kembali kepada Allah—meski masih penuh dosa—itu sudah merupakan tanda kasih sayang-Nya. Jangan menunda. Jangan menunggu dosa habis, karena dosa tidak akan habis tanpa cahaya hidayah.

Dari Allah, Dengan Allah, Untuk Allah

Kembali sejak awal juga berarti menyadari bahwa seluruh perjalanan spiritual:

  • berasal dari Allah,

  • berlangsung dengan pertolongan Allah, dan

  • berakhir kepada Allah.

Inilah inti tauhid yang diajarkan Al-Hikam. Seorang hamba tidak berjalan menuju Allah dengan kekuatannya sendiri, tetapi “dibawa” oleh Allah dengan rahmat-Nya. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati, ketenangan, dan keikhlasan.

Relevansi Bagi Kehidupan Modern

Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tuntutan, banyak orang merasa jauh dari Allah karena kesibukan dan keterbatasan diri. Hikmah “kembali sejak awal” menjadi penghibur: Allah tidak jauh, yang jauh adalah perhatian kita.

Kembali kepada Allah tidak selalu harus dimulai dengan perubahan besar. Ia bisa dimulai dengan pengakuan lemah, doa yang jujur, dan hati yang berserah. Bahkan kegagalan dan dosa pun dapat menjadi jalan kembali jika disertai kesadaran dan harap kepada rahmat-Nya.

Penutup

Kembali kepada Allah sejak awal adalah ajakan untuk meluruskan niat, membersihkan ketergantungan, dan menata ulang arah hidup. Bukan menunggu sempurna, bukan menunggu pantas, tetapi datang apa adanya sebagai hamba.

Sebagaimana hikmah-hikmah Al-Hikam mengajarkan:
ketika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia bukakan baginya pintu kembali kepada-Nya—dan pintu itu selalu terbuka.