Dalam Al-Hikam, Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari رحمه الله mengajarkan bahwa banyak kelelahan dalam hidup bukan karena beratnya perjalanan, melainkan karena kita memulai langkah dengan sandaran yang keliru. Ketika sejak awal hati tidak kembali kepada Allah, maka di tengah jalan kita mudah lelah, kecewa, dan kehilangan arah.
Sering kali manusia memulai urusannya dengan mengandalkan perencanaan, kemampuan, dan pengalaman semata. Padahal semua itu hanyalah sebab, bukan penentu hasil. Ketika hati bergantung pada sebab, kegelisahan akan selalu menyertai. Namun ketika sejak awal hati kembali kepada Allah, maka apa pun hasilnya akan diterima dengan lapang dada.
Imam Ibnu ‘Athaillah mengingatkan bahwa siapa pun yang memulai dengan Allah, akan diselamatkan oleh Allah di akhir. Sebaliknya, siapa yang memulai dengan selain Allah, akan dipaksa kembali kepada-Nya melalui kelelahan dan kegagalan. Karena Allah tidak ingin hamba-Nya tersesat dalam sandaran yang semu.
Kembali kepada Allah sejak awal berarti meluruskan niat sebelum melangkah, menghadirkan Allah sebelum berusaha, dan menyerahkan hasil sebelum bekerja. Dengan demikian, usaha tidak menjadi sumber kesombongan saat berhasil, dan kegagalan tidak menjadi sumber keputusasaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kembali kepada Allah sejak awal menjadikan hati lebih tenang. Doa mendahului usaha, tawakal mengiringi ikhtiar, dan ridha menutup setiap hasil. Inilah jalan keselamatan hati yang diajarkan dalam Al-Hikam.
Maka, sebelum memulai apa pun—pekerjaan, usaha, ibadah, atau keputusan besar—kembalikanlah hati kepada Allah. Karena siapa yang bersama Allah sejak awal, akan selalu menemukan Allah di setiap akhir.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang selalu memulai dengan-Nya, berjalan bersama-Nya, dan kembali kepada-Nya dengan hati yang tenang. Aamiin.